Penyebab Bentuk Galaksi Mulai Diketahui
NEW YORK--MI: Galaksi memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, tapi hingga kini para astronom belum dapat menjelaskan mengenai hal itu.
Kini, para ilmuwan menggunakan teori materi gelap dalam meneliti kumpulan galaksi di alam semesta. Teori penelitian itu dapat menghasilkan perhitungan yang akurat mengenai berbagai macam galaksi yang kita lihat. "Kami benar-benar takjub, teori penelitian kami dapat memberikan prediksi, baik keragaman maupun jumlah tipe galaksi dengan begitu tepat," kata peneliti Nick Devereux dari Universitas Embry-Riddle di Arizona.
Astronom Amerika Edwin Hubble adalah yang pertama kali mengembangkan sistem klasifikasi pada 1930-an yang dikenal dengan sistem rangkaian Hubble. Sistem itu membagi galaksi menjadi dua tipe yakni spiral dan elips. Galaksi elips berbentuk lonjong seperti telur dengan sinar di pusatnya. Galaksi spiral memiliki bentuk yang berputar-putar mengelilingi titik pusat. Galaksi kita, Bimasakti, dan galaksi terdekat, Andromeda, termasuk tipe spiral. Galaksi tipe spiral terbagi lagi dalam dua jenis yakni galaksi dengan dan tanpa adanya beberapa material padat di tangahnya. Bimasakti masuk ke jenis pertama.
Para ilmuwan pun menciptakan superkomputer dengan model baru yang sistemnya mengacu pada data, pengamatan, dan teori Lambda-CDM mengenai alam semesta. Teori ini mengemukakan bahwa jagat raya ini, sekitar 72%-nya terdiri atas beberapa kekuatan misterius yang disebut energi gelap (dark energy). Sementara itu, 23%-nya terdiri atas tipe materi tak terlihat atau materi gelap. Sisanya, 4%, terdiri atas materi yang normal dan dapat terlihat, termasuk semua bintang dan planet yang dapat kita lihat. Superkomputer dengan model terbaru ini juga dapat memprediksi jumlah galaksi spiral dan elips yang ada saat ini dengan akurat.
Penggunaan materi gelap sepertinya berperan penting dalam menentukan hasil penelitian karena teori itu memperkirakan bahwa galaksi berada di suatu kawasan lebih besar disebut halos yang tak terlihat. Sifat materi gelap dalam sebuah galaksi ini dapat memengaruhi evolusi dan menentukan apakah nantinya mereka akan menjadi galaksi spiral atau elips.
"Penemuan baru ini sangat berguna untuk penelitian lebih lanjut di masa depan," kata Devereux. "Tujuan kami selanjutnya adalah membandingkan model prediksi ini dengan pengamatan melalui teleskop Hubble yang dapat mengambil gambar galaksi dengan jarak sangat jauh dan dengan teleskop yang akan segera diluncurkan yakni teleskop James Webb Space," ujarnya. (SPACE.com/*/OL-04)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar